Dua hari yang lalu saya melihat kakak saya menggambar, ahh, jadi terbersit keinginan untuk melakukannya juga. Apa lagi saya ingat beberapa hari yang lalu ada seseorang yang bertanya, "Bisa gambar?!" dengan nada meremehkan :p Makin ingin saja saya menggambar. Saya ambilah pensil dan kertas hvs. Lama sudah tidak melakukan hobi yang sebenarnya sangat saya sukai itu. Terakhir saya merasakan nikmatnya menggambar saat kelas 3 SMP. Setelat masuk SMA, di samping kesibukan belajar yang padat, melihat teman dekat saya banyak yang jago gambar dan hasilnya subhanallah, saya jadi minder sendiri wkwk. Dulu di SMP saya biasa menggambar di sekolah kalau ada waktu luang, tapi saat di SMA, malu rasanyaa hhaha, entah kenapa saya bisa mikir begitu dulu ckck. Dan ternyata kebiasaan menggambar saya punah begitu saja. Sampai akhirnya kuliah semester dua, saya ambil mata kuliah seni yaitu komik. Saat itu lah saya kembali menggambar, tapi entah kenapa, saat itu saya tidak merasakan hal yang menyenangkan dari menggambar sehingga tidak bisa mengembalikan hobi saya lagi. Tapi dua hari yang lalu, saya merasakan kembali gairah itu *halah bahasanya*. Senang rasanya bisa menghasilkan suatu gambar, walau cuma gambar wajah karena tangan saya ternyata sudah kaku buat gambar full body hhehe. Kemarin itu hanya sekedar coret-coretan iseng, tidak terstruktur, jauh dari kata rapi dan bagus, tapi saya sangat senang hhihi. Nih saya tampilin hasil coret-coretan saya. :)
Lain waktu, insya4w1 saya mau membeli sketchbook yang bisa diisi ulang seperti yang dari dulu saya inginkann huaa tapi belum kesampean karena gga ada waktu ke gramed, sekalian mau beli perlengkapan gambar yang lain hhihii. Jadi semangat nih. :D
Thursday, September 20, 2012
Hhiihh!
Ah, manusia, kadang ada keinginan untuk 'memaki' di saat marah, manusiawi kan? Sungguh gondok rasanya selalu mendengar kalimat buruknya. Tapi bisa apa? Melawan? Dosa! Diam? Sakit hati. Tapi memang lebih baik diam, beristighfar, astaghfirullah, dan diam-diam mengirimkan sms ini, "Amal perbuatan yg paling disukai Allah sesudah yg fardhu (wajib) ialah menyenangkan hati seorang muslim." (HR.Thabrani)
Monday, September 17, 2012
Mengenai Analogi
Bismillah, kali ini saya mau menumpahkan sebuah pemikiran lama yang sekarang tiba-tiba muncul lagi *kaya clbk gitu hhehe*. Sebelumnya, ditulisan ini sama sekali saya gga bermaksud untuk membawa-bawa masalah agama, cuma contoh yang saya punya yya mengenai hal itu, jadi mohon maaf sebesar-besarnya kepada semua orang yang nantinya membaca tulisan ini, jika ada yang tidak berkenan, atau jika ada yang tidak sesuai, atau jika ada yang salah, mohon diingatkan.
Dulu saya gampang banget nerima analogi. Memang untuk memahami sesuatu lebih mudah dengan analogi. Seperti jaman SD dulu, kalo ditanya berapa 2 - 3, pasti saya analogikan dengan punya uang 2 terus ngutang 3, jadi sisanya masih punya hutang 1, artinya jawabannya -1 hhehe. Kadang analogi seperti itu memang membuat lebih mudah memahami sesuatu, dan saya menerimanya. Sampai suatu hari saya baca notes fb seorang teman dari agama tetangga menjelaskan suatu ayatnya dengan analogi. Saya meyakini dengan hati bahwa itu salah, tapi membaca analoginya membuat saya sempat membenarkan, sampai saya terus mencari-cari apa yang salah, dimana kesalahannya, karena pasti harus ada yang salah disitu, karena kenyataannya tidak sesuai kebenarannya. Sampai akhirnya saya menemukan dimana kesalahannya, sepertinya, tapi itu hanya pendapat saya. Menganalogikan sesuatu, gga boleh sembarangan, harus sesuai keadaannya. Kalo di matematika, untuk membuktikan sesuatu, bisa dengan asumsi, tapi jelas, asumsi itu juga harus dibuktikan kebenarannya. Analogi pun juga harus seperti itu, harus ada alasan yang jelas kenapa sesuatu bisa dianalogikan dengan sesuatu yang lain.
Suatu waktu saya pernah baca dua artikel sekaligus, pertama ada seorang matematikawan yang membuktikan bahwa Tuhan itu ada dengan formula-formula matematika, tapi saya agak lupa waktu itu Tuhan dianalogikan dengan apa dan bagaimana cara membuktikannya. Kedua, ada matematikawan pula, yang membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, juga dengan analogi dan pembuktian-pembuktian matematika, namun dengan objek yang berbeda. Kedua matematikawan itu mungkin cerdas di bidangnya, mungkin pembuktian pada barisan-barisan formulasi matematikanya tidak salah sedikitpun. Tapi yang jadi pertanyaan, bisakah Tuhan dianalogikan dengan angka atau simbol matematika atau yang lainnya? Siapa kita berani mengasumsikan Tuhan seperti itu?
Semenjak kejadian itu, saya jadi lebih kritis lagi memandang suatu analogi. Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan, bisakah? Yang saya pikirkan sekarang, analogi bisa jadi memudahkan pemahaman, tapi mungkin bisa jadi juga menyesatkan. Kembali lagi sih, kalau menerima apapun, jangan langsung di-iya-kan, seperti kalau lagi makan, jangan langsung ditelen hhehee, bisakah dianalogikan seperti itu? wkwk.
Dulu saya gampang banget nerima analogi. Memang untuk memahami sesuatu lebih mudah dengan analogi. Seperti jaman SD dulu, kalo ditanya berapa 2 - 3, pasti saya analogikan dengan punya uang 2 terus ngutang 3, jadi sisanya masih punya hutang 1, artinya jawabannya -1 hhehe. Kadang analogi seperti itu memang membuat lebih mudah memahami sesuatu, dan saya menerimanya. Sampai suatu hari saya baca notes fb seorang teman dari agama tetangga menjelaskan suatu ayatnya dengan analogi. Saya meyakini dengan hati bahwa itu salah, tapi membaca analoginya membuat saya sempat membenarkan, sampai saya terus mencari-cari apa yang salah, dimana kesalahannya, karena pasti harus ada yang salah disitu, karena kenyataannya tidak sesuai kebenarannya. Sampai akhirnya saya menemukan dimana kesalahannya, sepertinya, tapi itu hanya pendapat saya. Menganalogikan sesuatu, gga boleh sembarangan, harus sesuai keadaannya. Kalo di matematika, untuk membuktikan sesuatu, bisa dengan asumsi, tapi jelas, asumsi itu juga harus dibuktikan kebenarannya. Analogi pun juga harus seperti itu, harus ada alasan yang jelas kenapa sesuatu bisa dianalogikan dengan sesuatu yang lain.
Suatu waktu saya pernah baca dua artikel sekaligus, pertama ada seorang matematikawan yang membuktikan bahwa Tuhan itu ada dengan formula-formula matematika, tapi saya agak lupa waktu itu Tuhan dianalogikan dengan apa dan bagaimana cara membuktikannya. Kedua, ada matematikawan pula, yang membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, juga dengan analogi dan pembuktian-pembuktian matematika, namun dengan objek yang berbeda. Kedua matematikawan itu mungkin cerdas di bidangnya, mungkin pembuktian pada barisan-barisan formulasi matematikanya tidak salah sedikitpun. Tapi yang jadi pertanyaan, bisakah Tuhan dianalogikan dengan angka atau simbol matematika atau yang lainnya? Siapa kita berani mengasumsikan Tuhan seperti itu?
Semenjak kejadian itu, saya jadi lebih kritis lagi memandang suatu analogi. Pertanyaan pertama yang harus ditanyakan, bisakah? Yang saya pikirkan sekarang, analogi bisa jadi memudahkan pemahaman, tapi mungkin bisa jadi juga menyesatkan. Kembali lagi sih, kalau menerima apapun, jangan langsung di-iya-kan, seperti kalau lagi makan, jangan langsung ditelen hhehee, bisakah dianalogikan seperti itu? wkwk.
Thursday, September 13, 2012
IBM Apprenticeship : Full of Quotes
Kali ini saya mau cerita pengalaman yang sayang untuk dilewatkan ceritanya, yaitu rekruitment apprenticeship IBM. Jadi setelah status mahasiswa saya dicopot, tentu sekarang saya lagi sibuk mencari status baru biar gga terlalu lama berstatus job seeker alias pengangguran hhehee. Kira-kira sebulan yang lalu saya apply program apprenticeship IBM ini dan akhirnya diundang untuk mengikuti talk show dan written test tanggal 11 September 2012 kemarin, tempatnya di Pusat Studi Jepang UI.
Program apprenticeship IBM ini, seperti namanya, merupakan program temporary yang ditawarkan IBM selama empat bulan. Tapi, kalau nantinya cocok, IBM akan menawarkan posisi sebagai karyawan tentunya. Program ini didesign untuk mematangkan setiap pesertanya dalam hal kecocokannya terhadap IBM, juga untuk mengenalkan dunia IBM. Jadi setelah jadi karyawan nanti, peserta tidak salah berekspektasi dan bisa lama bekerja di IBM. Walaupun merupakan program temporary, menurut yang berpengalaman disini sih gga rugi untuk ikut, karena pengalaman kerja di IBM ini berharga banget. IBM dinobatkan sebagai company for leader, yang mendidik employeenya menjadi berjiwa pemimpin dan memaksimalkan potensi diri. Selain itu, salary nya pun gga kalah sama kerja benerannya di banyak tempat lain.
Nah, hari itu saya mengikuti talk show dari IBM tersebut. Ini lah yang menarik dari rekruitment kali ini. IBM, menurut saya, sangat menghargai para job seeker. Coba kalo ditanya, perusahaan mana yang ngasih snack dan makan siang buat para apply-er nya? Perusahaan mana yang nyediain talk show yang sebegitu dahsyat motivasinya? Ada kuis buat best tweet dan best photo pula. Cuma IBM kayanya yang bisa begini. Hari itu benar-benar full of quotes, full of motivation, and full of stress, hhahaa, karena soalnyaa, susyahhhh ciynnnn. Tapi buat yang jago bahasa inggris, kayanya bakal semudah membalikan telapak tangan hhehee. Dan kata-kata terakhir yang saya ingat dari IBM, "Kalau nanti kalian lolos tesnya, yawda biasa-biasa aja, alhamdulillah saya bisa, gga usah sombong. Kalau memang gga lolos, yya gga masalah. Hidup gga akan berakhir sampai sini. Masih banyak jalan. Masih banyak peluang di luar sana. Jadikan pengalaman sebagai pelajaran. Gimana biar kedepannya lebih baik lagi. Lebih maksimal lagi. Dan setiap ada kesempatan, dicoba aja, tapi bukan coba-coba. Di coba dengan semaksimal mungkin. Kalau memang IBM gga menerima kalian, bukan berarti kalian gga qualify, tapi kami mencari orang-orang yang cocok dengan kami.". Walaupun saya gga lolos written testnya, tapi gga nyesel deh ikutan rekruitmentnya. :D
Program apprenticeship IBM ini, seperti namanya, merupakan program temporary yang ditawarkan IBM selama empat bulan. Tapi, kalau nantinya cocok, IBM akan menawarkan posisi sebagai karyawan tentunya. Program ini didesign untuk mematangkan setiap pesertanya dalam hal kecocokannya terhadap IBM, juga untuk mengenalkan dunia IBM. Jadi setelah jadi karyawan nanti, peserta tidak salah berekspektasi dan bisa lama bekerja di IBM. Walaupun merupakan program temporary, menurut yang berpengalaman disini sih gga rugi untuk ikut, karena pengalaman kerja di IBM ini berharga banget. IBM dinobatkan sebagai company for leader, yang mendidik employeenya menjadi berjiwa pemimpin dan memaksimalkan potensi diri. Selain itu, salary nya pun gga kalah sama kerja benerannya di banyak tempat lain.
Nah, hari itu saya mengikuti talk show dari IBM tersebut. Ini lah yang menarik dari rekruitment kali ini. IBM, menurut saya, sangat menghargai para job seeker. Coba kalo ditanya, perusahaan mana yang ngasih snack dan makan siang buat para apply-er nya? Perusahaan mana yang nyediain talk show yang sebegitu dahsyat motivasinya? Ada kuis buat best tweet dan best photo pula. Cuma IBM kayanya yang bisa begini. Hari itu benar-benar full of quotes, full of motivation, and full of stress, hhahaa, karena soalnyaa, susyahhhh ciynnnn. Tapi buat yang jago bahasa inggris, kayanya bakal semudah membalikan telapak tangan hhehee. Dan kata-kata terakhir yang saya ingat dari IBM, "Kalau nanti kalian lolos tesnya, yawda biasa-biasa aja, alhamdulillah saya bisa, gga usah sombong. Kalau memang gga lolos, yya gga masalah. Hidup gga akan berakhir sampai sini. Masih banyak jalan. Masih banyak peluang di luar sana. Jadikan pengalaman sebagai pelajaran. Gimana biar kedepannya lebih baik lagi. Lebih maksimal lagi. Dan setiap ada kesempatan, dicoba aja, tapi bukan coba-coba. Di coba dengan semaksimal mungkin. Kalau memang IBM gga menerima kalian, bukan berarti kalian gga qualify, tapi kami mencari orang-orang yang cocok dengan kami.". Walaupun saya gga lolos written testnya, tapi gga nyesel deh ikutan rekruitmentnya. :D
Saturday, August 18, 2012
Pudarnya Pesona 17 Agustus
Akhirnyaa setelah lama gga menyentuh blog ini, ada waktu juga buat menyempatkan diri menulis *dan ada kuota juga akhirnyaa wehehe*. Pertama saya mau menulis tentang hari kemerdekaan negara tercinta ini, Indonesia :D Berhubung kemarin tepat tanggal 17 Agustus 2012, artinya bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-*mikir dulu* *2012-1945?* *67!* Yap! Ulang tahun kemerdekaan yang ke-67! hhehee. Ada yang jelas terasa berbeda dari pandangan saya, 17an di tahun-tahun sekarang ini dengan 17an di 10an tahun silam saat masa-masa sekolah dasar saya. Apa bedanya? Dulu saya pribadi merasa ada "sesuatu" pada tanggal 17 Agustus, tapi sekarang? Biasa ajah.
Gimana yya? Dulu, hari kemerdekaan ini selalu diwarnai dengan perayaan-perayaan yang menarik seperti lomba-lomba buat anak-anak dan orang tua. Setiap warga di RT saya *berasa yang punya RT* pasti berkumpul buat ikut lomba atau pun cuma sekedar menonton, atau juga jadi panitia. Bisa dipastikan 90% warga ikut berpartisipasi. Gimana engga? Sayang kali melewatkan momen yang menarik ini, apalagi banyak hadiah yang tentunya menarik buat saya sebagai anak bocah duluu hhehe.
Nahh masih lanjut ke perayaan 17an, dulu ada yang namanya karnaval. Tau karnaval gga? Jadi anak-anak kecil *ada remaja, ibu-ibu, n bapak-bapak juga sihh* baris rapih kaya lagi mau upacara, trus pake baju daerah *sampe nyewa ke salon coba bayangin!*, jalan kaki keliling daerah yang udah ditentukan dan berujung di suatu tempat dimana semua karnaval dari RT-RT lain berkumpul. Nah disitu deh jadi ajang sapa menyapa sama temen-temen SD dari RT lain, yang juga ikut karnaval. Ramainya bukan main, ada yang pake barongsai segala.
Ternyata, bukan cuma di daerah saya aja yang heboh merayakan 17an ini, dulu, kalo nonton acara TV, banyak juga daerah yang ngadain perlombaan-perlombaan gitu, panjat pinang contohnya. Bahkan teman-teman sekolah saya dulu ada yang cerita, setiap malam 17an, selalu diadain syukuran.
Kemarin, tepat 17 Agustus 2012, tepat ulang tahun kemerdekaan Indonesia, di daerah saya khususnya, terlihat sepi-sepi aja, gga terlihat tawa anak-anak kecil yang ikut lomba, gga terdengar sorak sorai penonton, gga ada lagi barongsai yang dulu selalu lewat depan rumah, ahh, kangen masa-masa itu.
Sebenernya, gga masalah sih ada atau engganya lomba-lomba itu, karnaval, atau apalah, tapi menurut saya, perayaan itu perlu, agar bangsa ini tau ada "sesuatu" di 17 Agustus itu. Atau memang pesona 17 Agustus itu sudah pudar? Setidaknya di daerah saya. :D
Gimana yya? Dulu, hari kemerdekaan ini selalu diwarnai dengan perayaan-perayaan yang menarik seperti lomba-lomba buat anak-anak dan orang tua. Setiap warga di RT saya *berasa yang punya RT* pasti berkumpul buat ikut lomba atau pun cuma sekedar menonton, atau juga jadi panitia. Bisa dipastikan 90% warga ikut berpartisipasi. Gimana engga? Sayang kali melewatkan momen yang menarik ini, apalagi banyak hadiah yang tentunya menarik buat saya sebagai anak bocah duluu hhehe.
Nahh masih lanjut ke perayaan 17an, dulu ada yang namanya karnaval. Tau karnaval gga? Jadi anak-anak kecil *ada remaja, ibu-ibu, n bapak-bapak juga sihh* baris rapih kaya lagi mau upacara, trus pake baju daerah *sampe nyewa ke salon coba bayangin!*, jalan kaki keliling daerah yang udah ditentukan dan berujung di suatu tempat dimana semua karnaval dari RT-RT lain berkumpul. Nah disitu deh jadi ajang sapa menyapa sama temen-temen SD dari RT lain, yang juga ikut karnaval. Ramainya bukan main, ada yang pake barongsai segala.
Foto karnaval yang saya ambil dari sini
Ternyata, bukan cuma di daerah saya aja yang heboh merayakan 17an ini, dulu, kalo nonton acara TV, banyak juga daerah yang ngadain perlombaan-perlombaan gitu, panjat pinang contohnya. Bahkan teman-teman sekolah saya dulu ada yang cerita, setiap malam 17an, selalu diadain syukuran.
Kemarin, tepat 17 Agustus 2012, tepat ulang tahun kemerdekaan Indonesia, di daerah saya khususnya, terlihat sepi-sepi aja, gga terlihat tawa anak-anak kecil yang ikut lomba, gga terdengar sorak sorai penonton, gga ada lagi barongsai yang dulu selalu lewat depan rumah, ahh, kangen masa-masa itu.
Sebenernya, gga masalah sih ada atau engganya lomba-lomba itu, karnaval, atau apalah, tapi menurut saya, perayaan itu perlu, agar bangsa ini tau ada "sesuatu" di 17 Agustus itu. Atau memang pesona 17 Agustus itu sudah pudar? Setidaknya di daerah saya. :D
Tuesday, July 24, 2012
FF Kereta
Pagi ini kereta sedang penuh. Ralat. Setiap pagi kereta ekonomi ini selalu penuh. Semua kalangan memenuhi setiap centi meter ruang di masing-masing gerbong. Pekerja, pelajar, pengemis, maling, copet, rampok, dan berbagai sebutan lainnya. Lelaki gagah itu salah satunya. Bukan, bukan perampok ataupun sejenisnya, tapi ia murni pekerja yang sedang berjuang melewati peluh sesak desakan penumpang lain. Di tengah kondisi itu ia masih sempat tersenyum dengan teman seperjuangan di kanan dan kirinya. Teman? Tapi ia sama sekali tidak mengenalnya, begitupun dengan yang ia sebut teman seperjuangan.
Adam, lelaki itu, kali ini bukan hanya senyum yang ia sumbangkan, sapaan ramah ia berikan kepada nenek tua yang meminta izin untuk menggandengnya. "Nenek takut jatoh, Nak", gumamnya. Tidak sampai semenit setelah percakapan singkat itu, tubuh nenek itu goyah, menindih Adam. Tidak sampai jatuh, bahkan mungkin tidak akan sampai jatuh, penuhnya kapasitas penumpang menjadi alasannya. Sampai akhirnya untuk yang kesekiankalinya kereta ini berhenti, ditempat dimana Adam biasa mengakhiri perjalanannya. Selang beberapa detik semenjak tubuhnya dibelai angin segar di peron stasiun, mukanya pucat, tiba-tiba. Lagi, ia merogoh kantong celana yang tidak berisi, sekali lagi. Di tempat lain, nenek tua kembali berpegangan dengan penggantinya.
Adam, lelaki itu, kali ini bukan hanya senyum yang ia sumbangkan, sapaan ramah ia berikan kepada nenek tua yang meminta izin untuk menggandengnya. "Nenek takut jatoh, Nak", gumamnya. Tidak sampai semenit setelah percakapan singkat itu, tubuh nenek itu goyah, menindih Adam. Tidak sampai jatuh, bahkan mungkin tidak akan sampai jatuh, penuhnya kapasitas penumpang menjadi alasannya. Sampai akhirnya untuk yang kesekiankalinya kereta ini berhenti, ditempat dimana Adam biasa mengakhiri perjalanannya. Selang beberapa detik semenjak tubuhnya dibelai angin segar di peron stasiun, mukanya pucat, tiba-tiba. Lagi, ia merogoh kantong celana yang tidak berisi, sekali lagi. Di tempat lain, nenek tua kembali berpegangan dengan penggantinya.
Saturday, July 21, 2012
Welcome Ramadhan
Wednesday, July 11, 2012
Gombalan Keduaa wkwk
Nyakitin kamu tuh sama aja kaya lagi bunuh nyamuk yang lagi gigit aku, bikin sakit diri sendiri *eeaa*.
Sunday, July 8, 2012
Cara Share Blog ke FB dan Twitter, Mau?
Halo kawans, ini adalah tulisan ketiga saya di hari ini, karena apa? Karena saat ini saya sedang jadi pengangguran wkwk, dan seperti biasa, produktivitas menulis jadi meningkat.
Ada satu hal, sebut saja 'sesuatu', yang baru saya ketahui dari berbagai sumber di google yang akan saya publikasikan nanti saat waktunya sudah tepat hhihii, sekarang masih rahasia. Tunggu saja tanggal mainnya dan tetap tune ini di blog inii hhahaa. Kenapa saya perlu membahas sesuatu itu sekarang? Karena sesuatu itu yang membuat saya semangat untuk menulis disini, mau ada yang baca atau tidak, yang penting asikk *ehh*.
Kali ini saya akan meng-share cara publish tulisan pada blog ke facebook atau twitter. Hal ini berawal ketika saya bingung cara meng-share blog ini ke jejaring sosial tersebut. Saya cari di-setting-an di blog ini, namun tidak kunjung ketemu. Apa kalian juga mengalami hal yang sama? Jika iya, lanjut aja bacanya hhehee.
Akhirnya dengan memanfaatkan teknologi mutakhir search engine yaitu google, saya mendapatkan informasi mengenai hal ini *tepuk tangan*.
Cara ini menggunakan twitterfeed.com. Mungkin ada cara lain yang bertujuan sama, namun ini yang pertama kali saya baca, dan ketika diaplikasikan, sangat mudah *sombongg*. Berikut langkah-langkahnya :
1. Siapkan komputer yang telah terhubung dengan akses internet, buka browser, lalu buka twitterfeed.com (dari handphone bisa juga sih, saya udah coba pake android saya)
2. Buat akun pada twitterfeed.com ini, caranya seperti buat akun di fb atau akun lainnya, tinggal klik register now dan ikuti petunjuk yang ada, masukkan email, password, confim password, lalu create.
3. Setelah itu isi Feed Name (judul blog) dan Rss Feed URL (http://namablog.blogspot.com/feeds/posts/default). Ganti "nama blog" dengan username masing-masing. Lalu klik Test Rss Feed. Jika berhasil maka akan muncul bacaan "Feed Parsed OK ". Lalu create feed.
4. Langkah terakhir yaitu menghubungkan blog ke facebook dan twitter. Daftarkan akun facebook dan twitter yang akan dihubungkan dengan mengikuti petunjuk yang ada. Caranya sangat mudah dan user friendly. Kemudian done.
5. Uji coba., hhehee. Ini langkah yang tidak boleh ditinggalkan untuk memastikan langkah-langkah diatas sudah berjalan dengan benar. Post tulisan baru kalian diblog masing-masing dan cek apakah sudah tersambung ke facebook dan twitter.
Mudah bukan? Selamat mencoba :)
Referensi : asyifapulsamurah.co.cc/2011/02/update-blog-ke-twitter.html?m=1
Ada satu hal, sebut saja 'sesuatu', yang baru saya ketahui dari berbagai sumber di google yang akan saya publikasikan nanti saat waktunya sudah tepat hhihii, sekarang masih rahasia. Tunggu saja tanggal mainnya dan tetap tune ini di blog inii hhahaa. Kenapa saya perlu membahas sesuatu itu sekarang? Karena sesuatu itu yang membuat saya semangat untuk menulis disini, mau ada yang baca atau tidak, yang penting asikk *ehh*.
Kali ini saya akan meng-share cara publish tulisan pada blog ke facebook atau twitter. Hal ini berawal ketika saya bingung cara meng-share blog ini ke jejaring sosial tersebut. Saya cari di-setting-an di blog ini, namun tidak kunjung ketemu. Apa kalian juga mengalami hal yang sama? Jika iya, lanjut aja bacanya hhehee.
Akhirnya dengan memanfaatkan teknologi mutakhir search engine yaitu google, saya mendapatkan informasi mengenai hal ini *tepuk tangan*.
Cara ini menggunakan twitterfeed.com. Mungkin ada cara lain yang bertujuan sama, namun ini yang pertama kali saya baca, dan ketika diaplikasikan, sangat mudah *sombongg*. Berikut langkah-langkahnya :
1. Siapkan komputer yang telah terhubung dengan akses internet, buka browser, lalu buka twitterfeed.com (dari handphone bisa juga sih, saya udah coba pake android saya)
2. Buat akun pada twitterfeed.com ini, caranya seperti buat akun di fb atau akun lainnya, tinggal klik register now dan ikuti petunjuk yang ada, masukkan email, password, confim password, lalu create.
3. Setelah itu isi Feed Name (judul blog) dan Rss Feed URL (http://namablog.blogspot.com/feeds/posts/default). Ganti "nama blog" dengan username masing-masing. Lalu klik Test Rss Feed. Jika berhasil maka akan muncul bacaan "Feed Parsed OK ". Lalu create feed.
4. Langkah terakhir yaitu menghubungkan blog ke facebook dan twitter. Daftarkan akun facebook dan twitter yang akan dihubungkan dengan mengikuti petunjuk yang ada. Caranya sangat mudah dan user friendly. Kemudian done.
5. Uji coba., hhehee. Ini langkah yang tidak boleh ditinggalkan untuk memastikan langkah-langkah diatas sudah berjalan dengan benar. Post tulisan baru kalian diblog masing-masing dan cek apakah sudah tersambung ke facebook dan twitter.
Mudah bukan? Selamat mencoba :)
Referensi : asyifapulsamurah.co.cc/2011/02/update-blog-ke-twitter.html?m=1
Berawal dari Hal Kecil
Teman saya pernah bilang *ayoo tebak siapaa wkwk*, jangan suka bohong, walaupun becanda, nanti jadi kebiasaan. Seperti papan tulis putih yang dikasih satu titik hitam kecil, jika banyak lama-lama akan menutupi seluruh permukaan papan tulis putih itu, sehingga warnanya jadi hitam semua. Pada saat itu, saat kita menuliskan titik hitam lagi, atau bahkan tulisan besar atau coretan yang banyak, tidak akan terlihat lagi, karena semuanya telah menjadi hitam, tulisan baru pun tidak kelihatan.
Itu analogi untuk orang yang sering berbohong, pertama-tama berbohong kecil, hanya untuk bercanda, pasti ada rasa janggal dihati, ada perasaan bersalah, tapi hal itu diabaikan karena masih sepele, sampai akhirnya sering berbohong, lama-lama saat melakukan kebohongan lagi, bahkan kebohongan yang besar, tidak akan terasa kalau itu salah, sudah tidak bisa merasakan lagi kalau hal itu salah. Semua dimulai dari hal kecil, sampai akhirnya terbiasa.
Dan saya selalu mikir *belum selesai ceritanyaa wkwk*, hal ini juga berlaku saat kita berbuat dosa. Seperti yang pernah saya tonton di film lorong waktu. Seorang pria baik, diajak temannya main kartu, lama-lama temannya mengajak main dengan taruhan uang. Awalnya pria itu tidak mau, namun karena hasutan dan perasaan yang sudah nyaman bermain kartu, pria itu menyetujui. Sampai akhirnya pria itu ditawari minuman keras. Lagi-lagi awalnya pria itu menolak, tapi entah bagaimana setan telah menghasut pikirannya, minumlah pria itu. Setelah itu, pria tersebut kehabisan uang untuk berjudi, dan dihasutlah untuk merampok, dan lagi-lagi hasutan itu berhasil pada akhirnya. Ketika bertemu dengan 'target', merampoklah dia sehingga target tersebut melawan, tapi dengan diluar akal sehatnya yang telah dipengaruhi oleh setan dan dosa-dosanya, pria itu membunuh targetnya. Pria yang awalnya baik itu pasti tidak akan menyangka kalau ia akan membunuh seseorang, perbuatan keji yang tidak berperikemanusiaan. Namun hal itu bisa terjadi ketika ia mengabaikan dosa kecil. Karena mengabaikan dosa kecil. Pernahkah kalian seperti itu?
Itu analogi untuk orang yang sering berbohong, pertama-tama berbohong kecil, hanya untuk bercanda, pasti ada rasa janggal dihati, ada perasaan bersalah, tapi hal itu diabaikan karena masih sepele, sampai akhirnya sering berbohong, lama-lama saat melakukan kebohongan lagi, bahkan kebohongan yang besar, tidak akan terasa kalau itu salah, sudah tidak bisa merasakan lagi kalau hal itu salah. Semua dimulai dari hal kecil, sampai akhirnya terbiasa.
Dan saya selalu mikir *belum selesai ceritanyaa wkwk*, hal ini juga berlaku saat kita berbuat dosa. Seperti yang pernah saya tonton di film lorong waktu. Seorang pria baik, diajak temannya main kartu, lama-lama temannya mengajak main dengan taruhan uang. Awalnya pria itu tidak mau, namun karena hasutan dan perasaan yang sudah nyaman bermain kartu, pria itu menyetujui. Sampai akhirnya pria itu ditawari minuman keras. Lagi-lagi awalnya pria itu menolak, tapi entah bagaimana setan telah menghasut pikirannya, minumlah pria itu. Setelah itu, pria tersebut kehabisan uang untuk berjudi, dan dihasutlah untuk merampok, dan lagi-lagi hasutan itu berhasil pada akhirnya. Ketika bertemu dengan 'target', merampoklah dia sehingga target tersebut melawan, tapi dengan diluar akal sehatnya yang telah dipengaruhi oleh setan dan dosa-dosanya, pria itu membunuh targetnya. Pria yang awalnya baik itu pasti tidak akan menyangka kalau ia akan membunuh seseorang, perbuatan keji yang tidak berperikemanusiaan. Namun hal itu bisa terjadi ketika ia mengabaikan dosa kecil. Karena mengabaikan dosa kecil. Pernahkah kalian seperti itu?
Subscribe to:
Posts (Atom)

